-->

Mungkinkah Allah Tidak Adil? Berbaik Sangkalah!


Mungkin pada suatu titik tertentu, para pelajar (seperti saya ini) pernah berpikir bahwa Tuhan Semesta Alam ini selalu tidak adil. Kebanyakan dari pelajar yang biasa berbuat jujur dalam berbagai hal mungkin selalu dihantui dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyalahkan Tuhannya, seperti misalnya “kenapa aku yang selalu belajar keras mendapat nilai jelek  padahal si A yang sering mencontek mendapat nilai 100, kenapa Allah tidak adil padaku ?” Tetapi mungkin pertanyaan tadi hanya sebagian kecil contoh umum yang selalu dirasakan dan masih banyak lagi pertanyaan/pernyataan lain yang sering sekali menjudge Tuhan kita (Allah SWT) selalu tidak adil.  
Saya secara pribadi juga pernah berpikir seperti itu. Bahkan sampai-sampai putus asa untuk tetap mempertahankan kejujuran hati ini. Berbagai hal buruk selalu melintas dipikiran saya ketika saya merasa bahwa Allah sudah tidak adil lagi kepada hambanya ini. Dan pada suatu ketika my beloved aunty (Sri Rusma Soejoto) mengirimkan sebuah catatan yang terinspirasi dari sebuah buku karangan Salim A.Fillah. Dan setelah saya membaca catatan tersebut, ya, saya merasa sangat bersalah. Saya merasa sangat tak tau diri dan tak punya malu. Bisa-bisanya saya menyalahkan Tuhan (Allah SWT). Padahal Dia yang telah memberikan saya nyawa untuk hidup, Masya Allah Astaghfirullahal Adzim. “Sungguh jahat saya ini”, dan kalimat itulah yang selalu terlintas dibenak saya setelah membaca catatan tersebut. Dan mungkin catatan ini akan saya share untuk para pelajar yang mungkin selalu merasakan hal yang sama.
 


Sebuah kisah dari Salim A.Fillah yang penuh hikmah dan menginspirasi kita : 

Seorang kawan bertanya dengan nada mengeluh. Dimana keadilan Allah?," ujarnya."Telah lama aku memohon dan meminta kepada-Nya satu hal saja. Kuiringi semua itu dengan segala ketaatan pada-Nya. Kujauhi segala larangan-Nya. Kutegakkan yang wajib. Kutekuni sunah.Kutebarkan shadaqah. Aku berdiri di waktu malam. Aku bersujud di kala Dhuha. Aku baca kalam-Nya. Aku upayakan sepenuh kemampuan mengikuti jejak Rasul-Nya. Tapi hingga kini Allah belum mewujudkan harapanku itu. Sama sekali."

Saya menatapnya iba. Lalu tertunduk sedih.
"Padahal, "lanjutnya sambil kini berkaca-kaca,"Ada teman lain yang aku tahu ibadahnya berantakan. Wajibnya tak utuh, Sunnahnya tak tersentuh. Akhlaknya kacau. Otaknya kotor. Bicaranya bocor. Tapi begitu dia berkata bahwa dia menginginkan sesuatu, hari berikutnya segalanya telah tersaji. Semua yang dia minta didapatkannya. Di mana keadilan Allah?"
Rasanya saya punya banyak kata-kata untuk menghakiminya. Saya bisa saja mengatakan."Kamu sombong.Kamu bangga diri dengan ibadahmu. Kamu menganggap hina orang lain. Kamu tertipu oleh kebaikanmu sebagaimana iblis telah terlena!. Jangan heran kalau doamu tidak diijabah. Kesombonganmu telah menghapus segala kebaikan. Nilai dirimua hanya anai-anai beterbangan. Mungkin kawan yang kau rendahkan jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah karena dia merahasiakan amal shalihnya!"
Saya bisa mengucapkan itu semua. Atau banyak kalimat kebenaran lainnya.
Tapi saya sadar. Ini ujian dalam dekapan ukhuwah. Maka saya memilih sudut pandang lain yang saya harap lebih bermakna daripada sekedar terinsyafkan tapi sekaligus terluka. Saya khawatir, luka akan bertahan jauh lebih lama daripada kesadarannya.
Maka saya katakan kepadanya,"Pernahkah engkau didatangi pengamen?"
"Maksudmu?"
Ya, pengamen,"lanjut saya seiring senyum."Pernah?"
Iya, pernah, wajahnya serius. Matanya menatap saya lekat-lekat.
Bayangkan, jika pengamennya adalah seorang yang berpenampilan seram, bertato, bertindik dan wajahnya garang mengerikan. Nyanyiannya lebih mirip teriakan yang memekakkan telinga.Suaranya kacau, balau, sengau, parau, sumbang dan cemprang. Lagunya malah menyakitkan ulu hati, sama sekali tak dapat dinikmati. Apa yang akan kau lakukan?
Segera kuberi uang, jawabnya, agar segera berhenti bernyanyi dan cepat-cepat pergi.
Lalu bagaimana jika pengamen itu bersuara emas, mirip sempurna dengan Ebiet G.Ade atau Sam Bimbo yang kau suka, menyanyi dengan sopan dan penampilannya rapi lagi wangi, apa yang kau lakukan?
Kudengarkan, kunikmati hingga akhir lagu, dia menjawab sambil memejamkan mata, mungkin membayangkan kemerduan yang dicanduinya itu. Lalu kuminta dia menyanyikan lagu yang lain lagi, tambah lagi dan lagi.
Saya tertawa..dia tertawa
Kau mengerti kan? tanya saya. Bisa saja Allah juga berlaku begitu pada kita, para hamba-Nya. Jika ada manusia yang fasik, keji, munkar, banyak dosa, dan dibenci-Nya berdia memohon pada-Nya, mungkin akan Dia firmankan pada malaikat. Cepat berikan apa yang dia minta. Aku muak mendengar ocehannya. Aku benci menyimak suaranya. AKu risi mendengar pintanya.
Tapi, saya melanjutkan sambil memastikan dia mencerna setiap kata. Bila yang menadahkan tangan adalah hamba yang dicintai-Nya, yang giat beribadah, yang rajin bersedekah, yang menyempurnakan wajib dan menegakkan sunnah, maka mungkin Allah akan berfirman pada malaikat-Nya. "Tunggu! tunda dulu apa yang menjadi hajatnya. Sungguh Aku bahagia bila diminta. Dan biarlah hamba-Ku ini terus meminta, terus berdoa, terus menghiba. Aku menyukai doa-doanya. Aku menyukai kata-kata dan tangis isaknya. Aku menyukai khusyu dan tunduknya. Aku menyukai puja dan puji yang dilantunkannya. Aku tak ingin dia menjauh dari-Ku setelah mendapat apa yang dia pinta. Aku mencintai-Nya.
Oh ya? matanya berbinar. Betul demikiankah yang terjadi padaku? Hmmm pastinya aku tak tahu, jawab saya sambil tersenyum. Dia agak terkejut. Segera saya sambung sambil menepuk pundaknya. Aku hanya ingin kau berbaik sangka. Dan dia tersenyum...Alhamdulillah....

Dan mungkin dari apa yang telah Salim A.Fillah tuliskan, hikmah yang dapat kita ambil adalah janganlah kita berprasangka buruk pada Allah SWT. Jika doa dan usaha kita semua belum terijabah mungkin ada beberapa faktor kecil yang masih kita lupakan, entah itu niat, kesungguhan ataupun kekusyukannya. Kita juga harus selalu bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Dan semoga postingan saya kali ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Amin.









Penulis : Baskara Adisakti ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

avatarArtikel Mungkinkah Allah Tidak Adil? Berbaik Sangkalah! ini dipublish oleh Baskara Adisakti pada hari Rabu, 28 Desember 2011. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Mungkinkah Allah Tidak Adil? Berbaik Sangkalah!
 

0 komentar:

Poskan Komentar